Rabu, 15 April 2015

Penginapan Murah di Dieng

Disclaimer: Beberapa foto penginapan di bawah ini nggak saya ambil secara pribadi, saya mengambil dari beberapa blog untuk kepentingan deskripsi, dan saya sudah menyertakan sumbernya di bawah foto yang saya ambil dari blog. 

Kalau kamu browsing soal penginapan di Dieng, kebanyakan orang menginap di Losmen Bu Djono. Katanya, penginapan ini super recommended dan terkenal banget di kalangan bule-bule hahaha. Saya pikir, karena di Dieng cuma numpang nyimpen barang, mandi, dan tidur, rasanya sayang banget kan kalau harus keluar duit lebih dari 100ribu cuma buat penginapan HAHAHA *pelit*

Setelah browsing sana-sini, saya dan partner memutuskan untuk menginap di Losmen Bu Djono. Selain murah, pertimbangan lainnya adalah losmen ini GAMPANG banget dicari, secara tempatnya tepat di depan tulisan 'Welcome To Dieng', kalau naik mikrobus kan turunnya di situ, jadi tinggal nyebrang.

Sumber Foto: https://kalderaprau.wordpress.com/2012/04/14/bu-djono-hotel-resto/ 
Losmen Bu Djono memperbolehkan kita untuk booking terlebih dahulu tanpa harus ada DP. Entahlah, mungkin karena waktu saya kesana tuh bukan musim liburan dan weekend (saya sampai di Dieng hari senin). Kalau kalian kemari di musim liburan atau weekend, sebaiknya hubungi penginapan jauh-jauh hari.

Banyak yang bilang, orang-orang di Bu Djono tuh ramah-ramah. Saya setuju, soal pelayanannya jangan ditanya, ramah banget! Ibu-ibu yang jagain penginapan juga baik dan ramah, cantik pula! Beberapa menit setelah saya telpon untuk booking kamar, mereka langsung sms nanya kalau-kalau saya perlu kendaraan buat di sana, mereka siap menyewakan. Satu hari sebelum saya berangkat pun mereka sms, nawarin mau dijemput di wonosobo apa enggak. Karena saya dan partner ogah keluar duit banyak, kami memutuskan untuk menolak hahahaha. Mereka rajin banget sms nanya-nanya saya udah sampai di Dieng apa belum hahaha ramah banget kan! Saya sih nggak terganggu, ya namanya juga usaha kan.

Kamar-kamar adanya di lantai dua (mungkin ada di lantai tiga juga karena ada tangga ke atas). Tangga dan lantainya terbuat dari kayu, suasananya homy banget. Dan agak kayak kos-kosan murah di Jakarta. Setiap ada yang jalan di koridor atau tangga, pasti kedengeran jelas. Tengah malam sebelum ngejar sunrise, ada tamu penginapan yang baru datang dan saya langsung bangun. Kamu ngobrol dengan volume biasa aja bisa kedengeran. Hahaha.

Walaupun tempatnya nggak mewah, tapi tenang aja, tempatnya nyaman buat tidur. 

Sumber Foto: http://akaruicha.blogspot.com/2015/03/bu-djono-nya-dieng.html 
Di lantai dua, ada teras yang menghadap ke tugu dieng. Ada kursi dan meja juga, cocok buat ngumpul sambil ngobrol dan ngopi. Tapi saya dan partner lebih suka tidur lebih cepat daripada nongkrong di teras. Selain dingin, kami belum tidur sejak kemarinnya.

Dari foto di atas, terasnya ada di balik pintu tengah. Waktu itu saya mengambil kamar yang sebelah kanan karena ada jendela yang langsung ke jalan, sedangkan kalau kamar yang di pintu kiri, jendela sampingnya menghadap ke tembok, kan nggak asik ya.

Setahu saya, Losmen Bu Djono punya kamar kelas Standar dan VIP.
Untuk kelas standar, harganya per malam Rp. 75.000,-. Kalian akan mendapatkan:

  • Satu tempat tidur ukuran double, 
  • dua buah bantal
  • satu buah selimut tebal
  • lemari kecil
  • free wifi
  • kamar mandi di luar (air panas). Tenang aja, kamar mandinya bersih banget kok, dan air panas 24 jam.

Note: kalau kalian mengambil kamar kelas standar, saran saya sih ambil yang letaknya dekat teras lantai dua. Karena kamarnya cukup terang dan ada jendela. Jangan ambil kamar yang sebelah kamar mandi, sempit banget dan agak pengap.

Sedangkan untuk kelas VIP, harga per malam Rp. 150.000,-. Kalian akan mendapatkan:

  • Satu tempat tidur ukuran double dengan bantal dan selimut tebal.
  • kamar yang luas
  • ada lemari besar dan televisi
  • free wifi
  • kamar mandi di dalam (air panas 24 jam)
  • bisa minta tambah kasur karena kamarnya cukup luas.


Sumber foto: https://mantugaul.wordpress.com/2012/11/04/review-dieng-plateau-wisata-dataran-tinggi-visit-jateng-2013/

Bentuk kamarnya kayak begini nih... ini yang kelas standar. Dan Foto di bawah ini kamar mandinya. 


Sumber Foto: https://mantugaul.wordpress.com/2012/11/04/review-dieng-plateau-wisata-dataran-tinggi-visit-jateng-2013/

Penginapan Bu Djono menyediakan penyewaan motor dan guide kok. Waktu saya dateng, saya langsung sekalian menyewa motor. Harganya Rp. 100.000,- udah termasuk bensin. Bensin full tank itu cukup banget buat keliling-keliling Dieng, kelebihan malahan. Selain termasuk bensin, dengan harga segitu kami dapat peta dieng yang sederhana banget tapi cukup jelas, dan penjelasan soal rute di peta dari mas-masnya. Motor yang disewakan juga kondisinya bagus banget kok, kami dapat motor vario baru yang suaranya haluuusss banget. hahaha.
Tapi, ada baiknya kalian cek harga lagi sebelum nyewa motor. Karena besoknya waktu kami check-out, ternyata harga sewa motornya Rp. 125.000,- . Sial. 

Oh, ya. Di penginapan Bu Djono juga ada restoran dan disana juga menyediakan oleh-oleh. saya dan partner sempat mencoba Nasi Gorengnya yang terkenal itu. Dan cuma nasi goreng yang saya foto. Hahaha. Ternyata beneran enak dan murah! Kalian harus coba, jangan lupa juga cobain tempe kemul yang hits banget di Dieng. Hahaha.








Untuk kalian yang berminat menginap di Penginapan Bu Djono, sila kontak nomor di bawah ini, pilih aja salah satu sesukamu. 
085643958085 (nomor yang saya telpon)
085227389949 (nomor yang rajin banget sms)

thank you,
:)

Selasa, 14 April 2015

Transportasi Umum dari Bandung ke Dieng

bulan Maret yang lalu, saya pergi ke Dieng. Sebenarnya ini benar-benar perjalanan singkat dan nggak ada niat buat menulis catatan perjalanan, tapi saya tuliskan disini just in case ada yang perlu info tentang itu dan nyasar ke blog ini. Hahaha!


Untuk bisa sampai ke Dieng, kita harus ke Wonosobo terlebih dahulu. Dari Bandung, ada beberapa alternatif pilihan transportasi umum. Misalnya, travel, bus atau kereta api. Tapi, yang paling mudah adalah menggunakan bus karena ada armada yang memiliki trayek langsung Bandung-Wonosobo dan sebaliknya. Sedangkan jika ingin menggunakan travel, kurang banyak yang tahu armada travel apa saja yang menuju Wonosobo dari Bandung. Dan untuk kereta api, tidak ada kereta yang langsung sampai ke Wonosobo, harus naik kendaraan lagi dari Purwokerto yang tentu saja akan menyita waktu lebih banyak.

Ada dua armada ternama yang memiliki trayek langsung Bandung-Wonosobo yaitu Sinar Jaya dan Budiman. Selain dari Bandung, armada Sinar Jaya juga melayani trayek Jakarta-Wonosobo. Saya kurang tahu pasti tarifnya berapa, karena saya menggunakan Bus Budiman. Tebakan saya, selisih harganya tidak terlalu jauh. Jika menggunakan Bus Budiman bisa naik dari Terminal Cicaheum atau dari pool yang letaknya di dekat Bunderan Cibiru.
Sebelum keberangkatan, saya sempat bertanya pada penjual tiket di Terminal, katanya, bus budiman jurusan Bandung-Wonosobo ada banyak dan jadwal keberangkatannya pun setiap jam. Jadi, tidak perlu dan tidak bisa beli tiket jauh-jauh hari. Cara terbaik untuk dapat tempat duduk adalah: datang lebih awal dari jam keberangkatan. Karena tiketnya juga dijual seperti saat kita naik bus kota. Harga tiketnya IDR 85k sudah termasuk paket makan (nasi + sayur + daging/ ikan + air minum) . Harga tiket bisa naik atau turun, tergantung harga BBM.
Jika ingin berangkat malam dari Bandung dan sampai di Wonosobo pagi hari, saya sarankan naik bus yang berangkat pukul 7 atau pukul 8 dari pool Cibiru. Saya berangkat pukul 6 sore dari Cibiru dan sampai di Wonosobo pukul 3 subuh, buat saya itu terlalu pagi.

Bus jurusan Wonosobo, baik Sinar Jaya maupun Budiman, akan berhenti di Terminal Mendolo. Dari sana,  naik angkot berwarna kuning yang nantinya akan melewati daerah bernama Plasa. Angkot kuning ini, baru masuk terminal pukul 6 pagi. Sebelum itu, mereka akan mangkal di luar terminal atau hanya lewat saja. Jadi, jika sampai di sana pukul 3 pagi, jangan harap menemukan angkot di dalam terminal. Oh ya, selain angkot, ada juga ojek yang mangkal di terminal dan bisa mengantar ke Plasa. Jika naik angkot, tarifnya IDR 3k (sebelum harga BBM naik) waktu tempuhnya kurang lebih 5 menit.

Sebenarnya, sebelum bus sampai ke Terminal Mendolo, bus Sinar Jaya dan Budiman ini melewati plasa. Rajin-rajinlah bertanya pada Kondektur setelah bus masuk Wonosobo, jika ingin langsung turun di Plasa.

Tempat yang disebut 'Plasa' adalah taman kota gitu, letaknya dekat Alun-alun Wonosobo. Disana ada banyak mikrobus berbagai jurusan. Berdasarkan informasi dari mas-mas yang saya tanyai, mikrobus ke Dieng mulai ada sekitar pukul setengah 6. Trayek mikrobus ke Dieng yaitu Wonosobo-Dieng-Batur. Mikrobus ini ada banyak, jadi tidak perlu khawatir harus menunggu lama ketika tidak ada mikrobus yang mangkal. Dari Plasa ke Dieng Plateau memerlukan waktu kurang lebih satu jam, mikrobus akan berhenti di beberapa titik seperti pasar, tapi tidak lama, selebihnya ya berhenti  hanya untuk naik turun penumpang saja.

Saya naik mikrobus bersamaan dengan matahari terbit. Jadi, di jalan sempat melihat matahari terbit meski hanya selewat, karena agak tertutup oleh Gunung Sindoro. Oh, ya, saran saya, jika naik mikrobus ke dieng, sediakan masker. Karena mikrobus akan berpapasan dengan banyak sekali mobil yang mengangkut pupuk kompos. Benar-benar bau petualangan. Tarif mikrobus dari Wonosobo ke Dieng, IDR 12.5k (sebelum harga BBM naik).

Tenang saja, tidak perlu takut terlewat karena Kondektur selalu mengatakan nama daerah yang akan dilewati mikrobus. Atau, seringlah menengok ke jendela sebelah kiri, jika sudah menemukan tugu bertuliskan 'welcome to Dieng' seperti foto di atas, maka sudah sampai di Dieng.
Untuk transportasi pulang ke Bandung, kurang lebih sama seperti saat berangkat, hanya arah sebaliknya. Naik mikrobus yang ke Wonosobo dari depan Losmen Bu Djono atau seberang Tugu Dieng, lalu turun di Plasa. Turun dari kendaraan harus benar-benar di tempat kemarin naik, karena jika tidak, maka akan tersesat. Misalnya tiba-tiba diturunkan sebelum sampai Plasa, yang harus dilakukan adalah naik kendaraan dengan trayek sama, atau naik ojek saja.

Dari plasa, naik angkot kuning lagi menuju terminal. Kalau tidak menemukan angkot, bisa naik ojek, atau sedikit berjalan dari Plasa ke arah kiri sampai bertemu jalan turunan tempat mikrobus yang lewat terminal mangkal.
Jangan takut untuk bertanya arah pada orang di jalan kalau kebingungan. Juga jangan takut untuk menolak tawaran tukang ojek, cukup geleng kepala dan tersenyum, mereka tidak akan memaksa.
Selamat jalan-jalan!!

thank you,
:)

Kamis, 22 Januari 2015

Resep Red Velvet Cupcake

Resep cupcake yang satu ini udah bertebaran dimana-mana dan ditulis oleh orang dalam maupun luar negeri. Tapi, kali ini aku mau cerita tentang pengalaman pertamaku bikin Red Velvet Cupcake yang jadi favorit banyak orang. Terakhir bikin cupcake itu dua tahun lalu hahaha jadi agak kaku.
Aku memakai resep panduan dari joyofbaking, alasannya sederhana sih: aku lihat videonya di youtube . Namun, resepnya aku modifikasi sedikit. Karena menurut beberapa sumber yang aku baca di internet, resep ala-ala bule kalo saklek kita bikin, hasilnya bakal terlalu manis. Katanya, gula disana nggak semanis gula di Indonesia. Jadi, resep ala-ala bule kebanyakan memakai ukuran gula yang cukup banyak.



Resep cupcake
125 gr    Tepung terigu all purpose
¼ sdt     Baking Powder
10 gr      Bubuk Coklat yang Duch Processed, tanpa pemanis.
90 gr      Gula Halus
57 gr      Salted Butter
¼ sdt     Garam (Kalau kamu pakai unsalted butter)
1 butir   Telur Ukuran Besar
120 ml   Buttermilk
1 sdm    Pewarna Makanan Merah
½ sdt     Air Perasan Lemon/ Apple Cider Vinegar
½ sdt     Baking Soda
½ sdt     Ekstrak Vanila

Resep Creamcheese Frosting
114 gr   Creamcheese
40 gr     Gula Halus
80 ml    Whipped Cream Cair
 
Ini bahan yang aku pakai, yang warna kuning dibungkus plastik, Blueband Cake and Cookie. Dibungkus plastik karena belinya di toko bahan-bahan kue. Dan BP SK itu bukan Badan Penyelesaian Sengketa Konsumen, tapi Baking Powder dan Soda Kue. Hahaha zz
  • Aku nggak menyarankan kalian untuk pakai merk coklat bubuk yang sama dengan punyaku. Setelah kuenya jadi, menurutku rasanya gak coklat, lebih kuat rasa vanillanya, padahal sudah sesuai ukuran resep. Kalau coklatnya mau ditambah, nanti warna kuenya makin gelap.
  • Oh, ya. Aku nggak menyarankan pakai Cream Cheese Light seperti yang aku pakai, varian itu lebih cocok untuk olesan roti dan teksturnya lebih cair. Aku baru tahu kalau itu faktor yang bikin frosting punyaku lebih encer dan gak stabil. Harusnya pakai yang ini,


Cara Membuat Cupcake
Panaskan oven terlebih dahulu, 175 derajat celcius
Campur bahan-bahan kering: tepung terigu, bubuk coklat, dan baking powder dalam satu wadah. Pisahkan.

Catatan: Sebaiknya untuk coklat bubuk diayak terlebih dahulu supaya nggak menggumpal. Atau semua bahan kering diayak, kalau dirasa perlu.
Karena susah untuk menemukan buttermilk di supermarket, bisa kita buat sendiri. Caranya: campur susu cair dengan air perasan lemon, aduk sebentar lalu tutup dan diamkan. Aku menggunakan gelas yang biasa dipakai untuk bekal minum. Atau kalo mau gampang, bisa pakai plain yogurt yang nggak manis.
Sambil menunggu buttermilk, mixer mentega sampai lembut sekitar 1-2 menit. Kemudian tambahkan gula halus, mixer sekitar 1-2 menit (sampai lembut). Setelah itu masukan telur, kocok sampai rata. Tambahkan ekstrak vanilla.
Catatan: jangan mengocok telur terlalu lama, secukupnya aja sampai telur dan menteganya rata. Berdasarkan pengalaman aku, kalau mengocok telurnya kelamaan, nanti kuenya nggak bagus. Waktu di dalam oven dia mengembang banget tapi pas udah dingin malah kempes jelek.
Campur pewarna merah ke dalam buttermilk, aduk sampai rata.
Tambahkan sebagian adonan kering yang tadi sudah dicampur, bergantian dengan buttermilk. Jadi setengah adonan kering (mixer rata dengan kecepatan rendah), buttermilk (aduk pakai sondet), setengah adonan kering (mixer lagi), sisa buttermilk (aduk lagi pakai sondet)
Campurkan air lemon dan baking soda, lalu tambah ke dalam adonan. Aduk ringan pakai sondet pelan-pelan.
Catatan: adonan yang sudah dicampur dengan campuran air lemon + baking soda harus langsung dipanggang. Jadi, kalau oven punyamu nggak cukup untuk semua, bagi dua dulu adonan kue, begitu juga dengan adonan air lemon + baking soda.

Untuk takaran adonan segitu, harusnya cukup untuk 12 buah cupcake dengan ukuran papercup standard (yang ada di cetakan). Papercup yang di tatakan itu ukurannya lebih besar.


Aku memanggang kurang lebih setengah jam hahaha lupa! Aku bolak balik cek cupcakenya udah matang atau belum pakai tusuk gigi. Alhasil, kuenya bolong-bolong.


Setelah cupcake mulai dingin, aku membuat frosting.
Cara membuat Creamcheese Frosting
Mixer cream cheese sampai lembut
Masukkan gula halus dan vanilla ekstrak
Kemudian masukan whipping cream cair sampai konsistensi adonannya pas.  
Catatan: jangan mengocok creamcheese dan whipping cream terlalu lama, karena semakin lama mengocok, adonan akan berair dan menggumpal. Jelek banget pokoknya. Walaupun kamu pakai varian creamcheese yang benar, creamcheese akan tetap berair.
Aku biasanya pakai icing sugar merk fiesta, daripada gula halus biasa. Berdasarkan pengalamanku sebelumnya, konsistensinya lebih kokoh. Untuk yang ini, aku pakai gula halus biasa, creamcheese yang keliru variannya, dan aku mengocoknya hampir kebablasan HAHAHA. Jadi hasilnya agak lembek dan gampang banget cair.

Ini dia hasilnya HAHAHA tumpeh-tumpeh. Sedih lihatnya hahaha. Walaupun frostingnya buyatak , rasanya ngeju dan manisnya cukup. Teksturnya kayak whipped cream yang suka di minuman-minuman, tapi lebih lembek.

 


Frosting boleh buyatak, tapi kuenya oke hahaha. Menurutku, untuk rasa coklatnya ada tapi samar dan lebih kerasa vanilla. Walaupun diluar kelihatan garing, pas dibelah dalemnya lembut banget, velvet banget lah. Menurut adikku yang suka frontal, rasanya pas dan cupcakenya lembut, dan nagih! hahaha. Menurut ibuku, frostingnya gak jelas tapi cakenya enak. Menurut tetangga yang ke rumah waktu selesai bikin ini, cupcakenya wangi dan lembut, manisnya pas. Hahaha makasih udah komentar :')

Memang belum purrfect, tapi lumayan lah untuk percobaan yang pertama. Hahaha next time aku coba lagi.

Selamat mencoba, jangan menyerah!
:)

Kamis, 12 Juni 2014

Novel Dilan, dia adalah Dilanku tahun 1990

Review kali ini adalah review novel yang bikin heboh sejagad twitter hehehe eh lebay ya? Tapi menurut pengamatanku di twitter, novel ini emang paling ditunggu dan waktu baru rilis ya… agak susah dicari karena cepet banget sold out hehehe.



“Cinta itu indah, jika bagimu tidak, mungkin kamu salah milih pasangan.”


Iya, cinta itu indah. Indah banget seperti yang diceritakan di Novel ini. Dilan, dia adalah dilanku tahun 1990 karya Pidi Baiq (selanjutnya disebut Ayah yaa). Sejujurnya ini novel pertama Ayah yang aku baca, sebelumnya aku cuma ‘kenal’ tulisan-tulisannya Ayah dari blog dan twitternya aja. Awalnya cerita tentang Dilan ini aku baca di blognya Ayah dan aku nunggu-nunggu banget gimana jadinya kalau cerita itu dibuat buku, pasti keren.


Ternyata benar!


Jadi, novel ini bercerita tentang cinta-cintaan anak SMA di kota Bandung tahun 1990. Tentu aja kalau dibandingkan sama cinta-cintaan anak SMA masa kini ya bakal beda. Apalagi mengambil latar tempat di kota Bandung, tahun 1990an lagi, waktu Palaguna masih kece dan BIP baru buka. Pokoknya di novel ini, Ayah mendeskripsikan Bandung tahun 1990 dengan sangat baik. Buat orang yang tinggal atau pernah tinggal di Bandung, ngebayangin Bandung tempo dulu bikin senyum-senyum sendiri hehehe. Pasar kordon… baso akung…. Lodaya… Jadi ingin ngerasain Bandung 20 tahun lalu yang Paris van Java banget.


Novel ini tentang cinta-cintaannya Milea dan Dilan. Dimulai waktu Milea pindah sekolah ke Bandung dan kenal dengan laki-laki aneh bernama Dilan. ‘Keanehan’ Dilan, menurutku jadi sesuatu yang bikin cerita cinta Milea dan Dilan jadi manis banget. Dilan mendekati Milea dengan cara-cara yang nggak biasa, Misalnya waktu pertama mereka bertemu, Dilan nggak mengajak kenalan tapi malah meramal Milea, katanya Milea akan bertemu dengannya di kantin. Kemudian Dilan juga mengirimkan coklat buat Milea lewat tukang koran, tugang pos, dll. Mengirim tukang pijat waktu Milea sakit, dan yang paling unik menurutku adalah mengirim TTS yang sudah diisi dan diselipkan sepucuk surat di dalamnya.

“SELAMAT ULANG TAHUN, MILEA.

INI HADIAH UNTUKMU, CUMA TTS.

TAPI SUDAH KUISI SEMUA.

AKU SAYANG KAMU

AKU TIDAK MAU KAMU PUSING

KARENA HARUS MENGISINYA.

DILAN!”
Pokoknya masih banyak lagi cara-cara ajaibnya Dilan yang out of the box untuk membuat Milea (dan aku) jatuh cinta. 


Benar-benar cerita cinta yang nggak muluk-muluk, nggak bertebaran kalimat yang manis-manis gombal tapi ngena banget di hati. Serius deh ini novel berkali-kali bikin aku tutup buku dulu sebentar buat senyum-senyum busuk dan ngegumam “Ih… kok…”


Novel ini diceritakan dari sudut pandangnya Milea, tokoh utama perempuan. Dengan begini, tokoh Dilan terkesan semakin misterius dan bikin penasaran.


Sayangnya, aku nggak terbiasa baca dialog yang langsung kayak gini:

“he he he. Kenapa mikirin aku?” kutanya.

“Aku hanya mikir yang senang-senang.”

“kamu senang mikirin aku?”

“malah bingung sih”

“bingungnya?”

“bingung bagaimana kuhentikan.”

“menghentikan apa?”

“mikirin kamu”
Meskipun diatasnya udah ada keterangan ‘kutanya’, tapi kadang malah jadi bingung sendiri, ini yang lagi ngomong tuh siapa.


Baca novel ini bikin kangen masa SMA, covernya SMA banget, tulisan ‘DILAN’-nya mengingatkan aku sama coretan-coretan di dinding jaman SMA hehehe. Oh, iya, di dalamnya juga ada ilustrasi-ilustrasi yang dibuat sendiri oleh Ayah. 

  

Novel ini aku rekomendasikan buat kamu kamu yang pengin ngerasain sensasi senyum-senyum sendiri waktu jatuh cinta, buat kamu yang ingin baca cerita cinta tapi nggak mau lebay tapi ngena, buat kamu yang suka sesuatu yang sederhana tapi bikin bahagia. 

Nih, aku kasih bocoran lagi biar kamu kamu pada penasaran (dan jatuh cinta) sama cerita yang ada di novel ini. 

 


Eh iya, aku rekomendasikan juga buat kamu kamu yang lagi pedekate dan perlu trik buat bikin gebetan kamu jatuh cinta. Trust me, it works!


“…jangan rindu.”

“Kenapa?”

“Berat. Kau gak akan kuat. Biar aku saja.”


Selamat membaca!

:)

Selasa, 10 Juni 2014

Novel Seruak


Novel Seruak ini bikin aku kaget. Pertama, kaget karena ternyata tebalnya ada lah 2cm, dan lebih kaget lagi pas buka bukunya. Edan! Ini tulisannya kecil-kecil banget kayak baca Alkitab hehehe. Ceritanya makan 433 halaman, sisanya ya perintilan kayak kata pengantar dll. Novel ini aku baca satu hari lebih dikiiit, cuma disisakan beberapa bab terakhir karena udah ngantuk banget. Sampai-sampai adikku bilang “Baca apa sih? Betah banget!”






Emang, Seruak ini bikin betah bacanya!

Jadi, ceritanya tentang sekelompok mahasiswa yang ikut KKN (Kuliah Kerja Nyata) di desa Angsawengi. Bukan KKN biasa karena KKN ini ujungnya bencana. Arbil, Fabyan, Mada, Yanto, Chamae, Jiana, India, Lula, Faye, Bonie, dan Nina.

Biar aku tebak, mungkin beberapa kejadian yang ada di Seruak, dialami sendiri sama penulisnya (Vinca Callista). Salah satunya acara kenduri yang ada di awal novel. Aku pernah baca itu di tumblrnya Vinca (aku salah satu followers tumblr-nya :p), kalau gak salah kejadian itu waktu hari pertama dia KKN di Cintaratu.

Semua tokoh punya sifat masing-masing, dan menurutku semua karakternya kuat banget. Maksudnya, pembedaan antara karakter satu dan yang lainnya jelas, baik dari gestur, cara bicara, dan ciri khas penampilan. Detail banget, bagaimana latar belakang seseorang itu ngaruh sama cara dia bicara dan jalan pikirannya dia, terbukti setelah baca Seruak.

Sebelum baca Seruak, aku pernah baca karya Vinca yang lainnya yaitu Semburat Senyum Sore dan Dunsa. Dari kedua novel itu, aku pikir Vinca nggak pernah main-main kalau bikin tokoh, sepertinya tiap tokoh diriset terlebih dahulu hehehe. Misalnya soal nama tokoh yang punya arti sesuai dengan karakternya di novel Dunsa. Nah, kalau di Seruak, arti nama tokoh ini nanti ada hubungannya dengan plot cerita. Hahaha baiknya kamu baca sampai selesai!

Oh ya, masih soal nama. Setiap tokoh punya nama panjang yang kayaknya masih ada hubungan saudara sama tokoh lain di novel lain. Mada Giorafsan… Adamma Amindar dan Thyo Amindar (Semburat Senyum Sore). Apa Fabyan Sadamelik masih saudara sama Fajar Sadamelik (Semburat Senyum Sore)?

Dari tulisan di cover, katanya novel ini tuh psycothriller novel. Meski adegan terbunuhnya udah ‘tersusun rapi’, sayangnya nggak berkesan kalau buat aku. Kurang greget gituu thrillernya. Hehehe.

Membaca novel ini menurutku kayak baca buku psikologi ditambah filsafat. Karena banyak istilah-istilah (terutama) psikologi yang baru aku tahu dan gimana pemikiran-pemikiran filosofisnya Bonie. Soal istilah yang nggak awam emang ngebingungin sih, tapi jangan khawatir, karena di novelnya pun Vinca memberi penjelasan yang bisa dimengerti. Beneran deh, baca Seruak tuh selain dapet hiburan dapet juga ilmu psikologi. Sebenernya ada beberapa perilaku tokoh yang sering aku temukan di sekitar aku, dan pas baca Seruak aku jadi manggut-manggut sendiri dan bilang “Oooh… begitu ya.

Menurutku, kalau nggak suka-suka banget baca, bakal bilang novel ini membosankan. Kenapa? Karena banyak banget narasi-narasi panjang yang bikin gemes pengin nge-skip. Belum lagi narasi panjang itu ada di halaman-halaman pertama dan tetap ada sampai akhir. Nah, sayangnya kalau narasi-narasi panjang itu nggak dibaca atau nggak dipahami, ceritanya bakal longkap dan kamu bakalan banyak kehilangan poin penting. Aku juga sempet bingung sih waktu baca halaman-halaman pertama itu. Ada penggunaan kata ‘saya’ yang aku nggak ngerti itu siapa hahaha tapi akhirnya tau sendiri kok siapa si ‘saya’ ini.

Oh ya, satu hal yang menurutku agak ganggu ya… Ada kalimat-kalimat yang panjang tanpa jeda atau jeda satu koma. Bisa 40an kata dalam satu kalimat tanpa koma, bikin ngos-ngosan sih bacanya. Ya, mungkin kakak editornya lupa hehehe.

Overall, Seruak ini bener-bener excellent, cerdas dan ngebuka pikiran aku. Ada satu quote yang paling aku suka, saking sukanya sampai dipakai buat bio twitter hehehe


"The less you know, the more interesting I am." - Nina

Novel ini aku rekomendasikan buat kamu kamu yang suka hal-hal berbau psikologi dan yang suka mengamati hal-hal di sekitar kamu,


Selamat membaca!

:)